Rejomulyo, Ngawi – Tim KKN Universitas Sebelas Maret (UNS) kelompok 236 dengan tema "Edukasi Pendampingan Pemberdayaan Masyarakat dalam Penguatan SDGs" menggelar pelatihan pembuatan briket dari bonggol jagung di Balai Desa Rejomulyo, Karangjati, Ngawi pada Selasa (5/8/2025). Kegiatan ini dihadiri oleh masyarakat umum serta anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) setempat.
Pelatihan ini dilatarbelakangi oleh kondisi desa yang memiliki potensi besar dalam pertanian jagung. Setiap musim panen, bonggol jagung yang tersisa kerap hanya dibuang atau dibakar begitu saja, sehingga kurang memberikan manfaat tambahan bagi warga. Padahal, limbah tersebut dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi, salah satunya briket sebagai bahan bakar alternatif. Dengan sifatnya yang ramah lingkungan, briket dari bonggol jagung dapat menjadi solusi energi yang hemat, efisien, dan berpotensi mendatangkan penghasilan baru.
Proses pelatihan dilakukan secara bertahap agar peserta dapat memahami seluruh alur pembuatan briket. Materi dibawakan langsung oleh anggota Tim KKN UNS kelompok 236, dimulai dari pengenalan konsep briket dan manfaatnya, pengumpulan dan penjemuran bonggol jagung, proses pembakaran dan penghancuran bahan baku, pencampuran dengan perekat alami, hingga pencetakan dan pengeringan. Peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga ikut mempraktikkan langsung pembuatan briket dengan peralatan sederhana yang tersedia di desa.
“Kami berharap inovasi ini bisa menjadi peluang usaha baru bagi warga sekaligus solusi pemanfaatan limbah pertanian yang lebih ramah lingkungan,” ujar Damara Artaviana Yoga, anggota Tim KKN UNS di Desa Rejomulyo.
Antusiasme warga terlihat jelas ketika sesi praktik berlangsung. Mereka berkelompok untuk mencoba mencetak briket, saling membantu dalam mengukur bahan, dan berbagi tips agar hasil cetakan lebih rapi. Beberapa warga bahkan sudah mulai berdiskusi mengenai cara memasarkan produk tersebut jika produksi bisa dilakukan secara rutin.
Sutowo, salah satu peserta pelatihan, mengaku mendapat wawasan baru dari kegiatan ini. “Setelah ini bisa mengolah bonggol jagung jadi briket, jadi mau nyoba untuk membuat lalu dijual,” ujarnya penuh semangat.
Kegiatan ini dirancang untuk memberdayakan masyarakat dengan keterampilan baru yang relevan dengan potensi lokal. Selain membantu mengurangi limbah pertanian, pembuatan briket bonggol jagung dapat menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga, sekaligus memperkenalkan warga pada konsep ekonomi sirkular.
Secara lebih luas, kegiatan ini sejalan dengan tujuan KKN UNS kelompok 236 dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDGs nomor 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dan nomor 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Dengan mengoptimalkan sumber daya yang tersedia di desa, masyarakat diharapkan mampu menciptakan produk yang bermanfaat, bernilai, dan berkelanjutan.
Melalui pelatihan ini, Tim KKN UNS berharap warga Desa Rejomulyo dapat terus mengembangkan keterampilan yang diperoleh, mengolah bonggol jagung menjadi produk siap pakai, dan memanfaatkan peluang pasar yang ada. Inovasi sederhana namun strategis ini diharapkan menjadi langkah awal untuk menciptakan UMKM mandiri berbasis potensi lokal yang berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat serta kelestarian lingkungan.