Ngawi, 18 Juli 2025 – Kekerasan seksual pada anak masih menjadi masalah serius di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, jumlah kasus terus meningkat dari 6.969 kasus pada 2020 menjadi 11.771 kasus pada 2024. Di Kabupaten Ngawi sendiri, kasusnya mengalami fluktuasi, dengan 11 kasus tercatat pada 2024.
Melihat kondisi ini, Tim KKN 236 Universitas Sebelas Maret di Desa Rejomulyo Kabupaten Ngawi menggelar sosialisasi bertajuk “Berani Bicara, Berani Menjaga: Edukasi Gender dan Batasan Fisik” yang dilaksanakan di SD Negeri Rejomulyo 1, Kecamatan Karangjati, Kabupaten Ngawi. Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (18/7/2025) ini menyasar siswa-siswi kelas 5 sekolah tersebut.
Anggota tim, Wulan Cahya Dwi Yunita, menjelaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah membekali siswa dengan pengetahuan tentang gender, kesetaraan gender, semangat meraih cita-cita, anti perundungan (bullying), serta batasan fisik yang boleh dan tidak boleh disentuh oleh orang lain. “Kami ingin anak-anak memiliki pemahaman sejak dini bahwa tubuh mereka berharga dan mereka berhak untuk melindunginya,” ujarnya.
Kegiatan ini diawali dengan penyampaian materi secara interaktif, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, dan ditutup dengan latihan mengidentifikasi bagian tubuh yang termasuk area pribadi. Antusiasme peserta terlihat dari partisipasi aktif mereka, baik saat menjawab pertanyaan maupun saat mengerjakan lembar kerja yang diberikan. Siswa yang berhasil menjawab dengan benar mendapatkan hadiah berupa gantungan kunci bertuliskan “Tubuhku Milikku” sebagai simbol kepemilikan atas tubuh mereka.
Selain memberikan edukasi, kegiatan ini juga menjadi langkah awal untuk mengubah stigma masyarakat yang masih menganggap pendidikan seks sebagai hal tabu. “Justru dengan pemahaman yang benar, anak-anak dapat terhindar dari kekerasan seksual dan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri,” tambah Wulan.
Kegiatan dapat terselenggara berkat dukungan penuh pihak sekolah yang menyediakan fasilitas, serta respon positif dari siswa-siswi. Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan guru dan orang tua dapat melanjutkan pemberian pendidikan seks yang sesuai usia, sehingga anak-anak di Desa Rejomulyo semakin terlindungi dari kekerasan seksual dan mampu menghargai diri sendiri maupun orang lain.